A. Pengertian Intelektual
Intelegensi bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendeskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual. Dalam mengartikan intelegensi (kecerdasan) ini, para ahli mempunyai pengertian yang beragam.
Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat dikembangkan berdasarkan hasil laporan berbagai studi pengukuran dengan menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya, yang dilakukan secara longitudinal terhadap sekelompok subjek dari dan sampai ketingkatan usia tertentu secara test - retest yang alat ukurnya disusun secara sekuensial (Standfort revision benet test).
Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat dikembangkan berdasarkan hasil laporan berbagai studi pengukuran dengan menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya, yang dilakukan secara longitudinal terhadap sekelompok subjek dari dan sampai ketingkatan usia tertentu secara test - retest yang alat ukurnya disusun secara sekuensial (Standfort revision benet test).
Dengan menggunakan hasil pengukuran test inteligensi yang mencakup general (Infomation and Verbal Analogies, Jones and Conrad (Loree, 1970 : 78) telah mengembangkan sebuah kurva perkembangan Inteligensi, yang dapat di tafsirkan anatara lain sebagai berikut : ```````````
1). Laju perkembangan Inteligensi pada masa anak-anak berlangsung sangat pesat,
2). Terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu (Juntika N, 137-138).
1). Laju perkembangan Inteligensi pada masa anak-anak berlangsung sangat pesat,
2). Terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu (Juntika N, 137-138).
Bloom (1964) melukiskan berdasarkan hasil studi longitudinal, bahwa dengan berpatokan kepada hasil test IQ dari masa - masa sebelumnya yang di tempuh oleh subyek yang sama, kita akan dapat melihat perkembangan prosentase taraf kematangan dan kemampuannya sebagai berikut :
a. Usia 1 tahun berkembang sampai sekitar 20%-nya
b. Usia 4 tahun sekitar 50%-nya
c. Usia 8 tahun sekitar 80%-nya
d. Usia 13 tahun sekitar 92%-nya
a. Usia 1 tahun berkembang sampai sekitar 20%-nya
b. Usia 4 tahun sekitar 50%-nya
c. Usia 8 tahun sekitar 80%-nya
d. Usia 13 tahun sekitar 92%-nya
Hasil studi Bloom ini tampaknya (1952; 150 dan Loree 91970) : 79) juga menugaskan bahwa laju perkembangan IQ itu bersifat proposional. Dalam dunia pendidikan dan pengajaran masalah inteligensi merupakan salah satu masalah pokok; karenanya tidak mengherankan kalau masalah tersebut banyak di kupas orang, baik secara khusus maupun secara sambil lalu dalam pertautan dengan pengupasan yang lain. Tentang peran inteligensi itu dalam proses pendidikan ada yang menganggap demikian pentingnya sehingga di pandang menentukan dalam hal berhasil dan tidaknya seseorang dalam hal belajar; sedang pada sisi lain ada juga yang menganggap bahwa inteligensi tidak lebih mempengaruhi soal tersebut. Tetapi pada umumnya orang berpendapat, bahwa inteligensi merupakan salah satu faktor penting yang ikut menentukan berhasil atau gagalnya belajar seseorang; terlebih-lebih pada waktu anak masih sangat muda, inteligensi sangat besar pengaruhnya.
Adapun pembahasan mengenai inteligensi itu secara teknis pada pokoknya dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu :
1). Pembahasan mengenai sifat hakekat inteligensi, dan
2). Pembahasan mengenai penyelidikan inteligensi itu
1). Pembahasan mengenai sifat hakekat inteligensi, dan
2). Pembahasan mengenai penyelidikan inteligensi itu
Hal yang sama lebih bersifat teoritis-konsepsional, sadang hal yang kedua lebih bersifat teknis metodologisnya. Dalam pada itu harus diingat bahwa penggolongan seperti yang dikemukakan itu hanyalah bersifat teknis bukan prinsip. Sebab kedua hal itu pada hakekatnya tidak dapat di pisah-pisahkan dengan tajam. Inti persoalan daripada sifat hakikat inteligensi itu dirumuskan dengan pertanyaan : Apakah inteligensa itu ? Pertanyaan ini justru dalam bentuknya yang demikian itu, menjadi obyek diskusi yang hangat bagi banyak ahli-ahli psikologi, terutama disekitar tahun-tahun 1900-1925. Persoalannya sendiri sudah tua sekali, lebih dari padaitu psikologi itu sendiri, karena hal tersebut telah di bahas oleh ahli-ahli filsafat dan kemudian ahli-ahli biologi sebelum psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri ahli. (J.S.Suriasumantri, 2004 : 122).
Menurut konsepsi inteligensi ini adalah persatuan (kumpulan yang di persatukan) daripada daya-daya jiwa yang khusus. Karena itu pengukuran mengenai inteligensi juga dapat di tempuh dengan cara mengukur daya-daya jiwa khusus itu, misalnya daya mengamati, daya mereproduksi, daya berfikir dan sebagainya. (J.S.S : 2004 : 125). Konsep-konsep yang timbul dari keyakinan, bahwa apa yang di selidiki (di test) dengan test inteligensi itu adalah inteligensi umum. Jadi inteligensi diberi defenisi sebagai taraf umum yang mewakili daya-daya khusus. Piaget menemukan tahap berfikir praoprasional, suatu tahap yang berlangsung dari usia dua atau tiga tahun sampai tujuh atau delapan tahun (109). (Hurlock : 123).
B. Pengukuran Intelegensi
Intelegensi setiap anak tidak sama. Untuk mengukur perbedaan – perbedaan kemampuan individu tersebut, para psikolog telah mengembangkan sejumlah tes intelegensi. dalam hal ini, Alfret Binnet (1857 - 1911), seorang dokter dan psikolog Perancis, dipandang secara luas sebagai orang yang sangat berjasa dalam mempelopori pengembangan tes intelegensi ini.
Tes intelegensi yang dirancang Binnet ini berangkat dari konsep usia mental (Mental Age - MA) yang dikembangkannya. Binnet menganggap anak – anak yang terbelakang secara mental akan bertingkah dan berkinerja seperti anak – anak normal yang berusia lebih muda. Ia mengembangkan norma – norma intelegensi dengan menguji 50 orang anak – anak dari usia 3 hingga 11 tahun yang tidak terbelakang secara mental. Anak –anak yang diduga terbelakang secara mental juga diuji, dan performa mereka dibandingkan dengan anak –anak yang usia kronologisnya sama di dalam sampel yang normal. Perbedaan antara usia mental (MA) dengan usia – usia kronologis (CA)—usia sejak lahir – inilah yang digunakan sebgai ukuran intelegensi.
Anak yang cerdas memilki MA di atas CA , sedangkan anak yang bodoh memilki MA dibawah CA.
Aspek Intelektual Strenberg
| Aspek Intelegensi | Kemampuan |
| Componential Experiental constextual | Pengkodean dan penggambaran informasi, dan perencanaan pelaksanaan solusi atas permasalahan – permasalahan. Mampu memadukan masalah – masalah lama dengan cara – cara baru, mampu memecahkan masalah secara otomatis. Mampu menyesuaikan, mengubah dan memilih lingkungan belajar untuk dijadikan sebagai sarana dalam pemecahan masalah. |
Beberapa teori kontemporer tentang intelegensi lebih di fokuskan pada inteligensi praktis (practical intelegence)—intelegansi yang dihubungkan dengan semua kesuksesan dalam kehidupan sehari – hari dari Strenberg tersebut-- dibandingkan pada prestasi akademis dan intelektual. Hal ini karena kesuksesan dalam hidup atau karir dibutuhkan suatu tipe inteligensi yang sangat berbeda dengan yang dibutuhkan dalam kesuksesan akademis, dan kebanyakan psikolog percaya bahwa IQ tidak mempunyai hubungan yang signifikan dalam kesuksesan dalam berkarir. Orang yang tinggi dalam intelegensi praktisnya , lebih mampu mempelajari norma – norma dan prinsip – prinsip umum serta mengaplikasikannya secara tepat ( Feldman, 1996).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar